Site icon Daily Akamuga

Pierre Gasly Sebut Hukuman Di Monaco Sebagai Hari Terberat F1

Daily Akamuga – Pierre Gasly mengungkapkan bahwa kehilangan kesempatan meraih podium di Grand Prix Monako pekan lalu merupakan momen tersulit dalam karirnya di Formula 1. Pembalap asal Prancis tersebut berhasil menyelesaikan balapan di posisi ketiga, namun segera terdegradasi ke posisi ketujuh akibat dua penalti lima detik karena melanggar batas kecepatan di pitlane. Gasly menggambarkan performanya pada balapan tersebut sebagai salah satu yang terbaik dalam karirnya.

Penalti yang diberikan kepadanya membuatnya terpaksa terlempar di belakang Isack Hadjar, Oscar Piastri, dan kedua pembalap dari tim Racing Bulls. Tim Alpine mengklaim bahwa Gasly tidak melanggar batas kecepatan pitlane berdasarkan data yang mereka miliki. Akibatnya, mereka mengajukan permohonan kepada FIA untuk melakukan peninjauan terhadap keputusan tersebut yang membuat Gasly kehilangan kesempatan untuk naik podium.

Proses Peninjauan Penalti

Gasly dan timnya berusaha bekerja sama untuk mempersiapkan pembelaan mereka menjelang sidang yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis, menjelang akhir pekan Grand Prix Barcelona. Dalam pernyataannya kepada media, Gasly mengakui bahwa dampak emosional akibat hasil di Monako sangatlah signifikan.

Gasly berbagi pengalamannya bahwa mengatur persiapan untuk balapan selanjutnya sambil menghadapi proses peninjauan sangatlah menantang. Dia menyebutkan, “Saya pikir ini adalah hari tersulit yang pernah saya alami di F1 dan dalam karir olahraga saya.” Ia menggambarkan bagaimana Grand Prix Monako, yang merupakan balapan ikonik, memiliki arti khusus baginya karena merupakan balapan yang ia impikan sejak kecil.

Kendalikan Emosi Setelah Monako

Gasly menambahkan bahwa situasi tersebut menjadi lebih sulit diterima, mengingat kesempatan untuk bersaing memperebutkan podium bagi tim Alpine tidak sering muncul. Menurutnya, dengan performa baik yang telah ditunjukkan, rasa kekecewaan semakin terlihat. “Jika Anda mengendarai mobil yang memberi Anda kemungkinan untuk meraih podium setiap akhir pekan, situasinya akan berbeda,” ungkapnya.

Meskipun hasil balapan tidak sesuai harapan, Gasly menegaskan kebanggaannya terhadap performa tim Alpine. Dia mencatat bahwa mereka telah melaksanakan rencana balapan dengan sangat baik, mulai dari kualifikasi yang sukses hingga awal balapan yang kuat. “Dari segi performa, kami sangat bangga dengan apa yang telah dicapai selama akhir pekan itu,” lanjutnya.

Persiapan Menuju Balapan Selanjutnya

Setelah peristiwa di Monako, Gasly merasakan perlunya waktu untuk merenungkan semua yang terjadi sebelum fokus kembali kepada Grand Prix di Barcelona. Dia mengaku butuh beberapa hari untuk menenangkan diri setelah balapan yang begitu intens. “Monako, sudah tentu, adalah akhir pekan yang sangat menegangkan baik di dalam maupun di luar trek. Saya merasakan adrenalin yang sangat tinggi,” katanya.

Menurut Gasly, banyak diskusi telah dilakukan antara timnya, pengacara, dan pihaknya berkaitan dengan proses peninjauan. “Saya masih terlibat dalam apa yang terjadi dan seluruh situasinya,” jelasnya.

Regulasi menyatakan bahwa untuk bisa berhasil menantang penalti yang dijatuhkan selama balapan, tim Alpine harus dapat menghadirkan bukti baru yang relevan dan signifikan yang tidak tersedia saat balapan berlangsung. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim Alpine untuk membuktikan bahwa keputusan yang diambil tidak adil.

Kesimpulan

Pierre Gasly memberikan pandangan mendalam tentang kerentanan emosional yang dialaminya setelah Grand Prix Monako, sambil tetap mempertahankan harapan untuk masa depan dengan tim Alpine. Proses peninjauan terhadap penalti yang dikenakan padanya terus menjadi fokus utama, dan dengan semangat juang yang tinggi, Gasly berharap dapat memperbaiki keadaan saat memasuki balapan berikutnya di Barcelona. Menyongsong masa depan, ia tetap optimis terhadap capaian yang dapat diraih oleh timnya, meskipun perjalanan masih panjang.

Exit mobile version