Daily Akamuga – Dokter terkemuka asal Australia, Richard Scolyer, telah meninggal dunia pada usia 59 tahun, tiga tahun setelah didiagnosis menderita tumor otak agresif. Scolyer, yang menjadi sorotan dunia berkat keputusannya untuk menjalani terapi eksperimental berisiko tinggi, dikenal atas kontribusinya dalam penelitian melanoma dan perannya dalam pengembangan imunoterapi.
Scolyer, yang juga merupakan direktur bersama di Melanoma Institute Australia, berkolaborasi dengan temannya, Profesor Georgina Long, untuk mengembangkan metode baru dalam penanganan melanoma yang selama ini dianggap fatal. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mereka membantu meningkatkan angka kesembuhan pasien, dari kurang dari 10% menjadi hampir 50%. Penemuan mereka juga mendorong dimulainya uji coba klinis di Amerika Serikat terkait pengobatan tumor otaknya.
Dalam surat terbuka yang ditulis menjelang akhir hidupnya, Scolyer mengungkapkan keinginannya untuk terus berkontribusi, meski berada dalam kondisi sulit. Ia mengatakan, “Kita memiliki tanggung jawab untuk mengubah masa depan bagi orang lain dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Saya telah menjalani prinsip itu sepenuh hati.”
Scolyer dikenal luas sebagai salah satu ilmuwan yang dihormati di negaranya dan pada tahun 2024, ia bersama Long dianugerahi gelar Australian of the Year. Walau menghadapi prognosis yang tidak optimis, ia tetap optimis akan kemungkinan pengobatan inovatif dan meminta agar komunitas ilmuwan tetap berani dalam meneliti dan mengembangkan solusi baru untuk kanker.
Di samping karirnya yang cemerlang, Scolyer dikenang oleh teman-teman dan keluarganya yang mendukungnya sepanjang perjalanan penyakitnya. Ia meninggalkan istri, Katie Nicholl, serta tiga anak mereka, dan dikenang sebagai sosok yang ceria dan inspiratif.