Alasan Pendonor Darah Tidak Kembali Untuk Donasi Selanjutnya

Daily Akamuga – Masalah pendonor darah di Indonesia kini menjadi sorotan, terutama saat peringatan Hari Donor Darah Sedunia yang jatuh setiap 14 Juni. Meskipun setiap tahun jutaan warga bersedia mendonasikan darah, pertanyaan penting yang muncul adalah mengapa banyak pendonor tidak kembali setelah sekali berdonor. Hal ini menjadi perhatian utama mengingat keberadaan darah tidak dapat digantikan oleh teknologi dan harus diperoleh dari manusia yang bersedia berbagi.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah ideal suatu negara mencapai dua persen dari total populasi. Di Indonesia, dengan populasi melebihi 280 juta jiwa, dibutuhkan setidaknya 5,6 juta kantong darah setiap tahun. Namun, ketersediaan darah nasional saat ini baru mencapai 4 hingga 4,2 juta kantong, menjadikannya isu mendesak. Ketersediaan darah sering mengalami penurunan pada periode tertentu, seperti Ramadan dan liburan Natal, di mana jumlah pendonor terkadang berkurang drastis.

Di Jakarta, data PMI menunjukkan bahwa pada Februari 2025 tercatat 34.434 pendonor, tetapi angka ini merosot menjadi 20.712 saat Ramadan tiba. Meskipun rata-rata Jakarta mampu menghimpun 1.031 kantong darah per hari, masih terdapat kekurangan dari kebutuhan ideal yang mencapai 1.200 kantong per hari. Hal ini menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya mengumpulkan donor baru, tetapi juga mempertahankan partisipasi pendonor yang ada.

Donor darah juga mencerminkan solidaritas di tengah masyarakat yang beragam. Di ruang donor, status sosial diabaikan, sehingga individu dari berbagai latar belakang dapat bersatu dengan satu tujuan: membantu sesama. Melihat pentingnya keterlibatan ini, optimisme tetap diharapkan agar lebih banyak orang bersedia berpartisipasi secara berkelanjutan dalam kegiatan donor darah.